Semua akhlak dan kelakuan yang bersifat keagamaan itu tidak akan meresap ke dalam jiwa seseorang, selagi ia tiada membiasakan dirinya dengan segala adat-adat yang baik, dan meninggalkan segala perbuatan-perbuatan yang jahat atau buruk.

Dalam melaksanakan syarat ini, hendaklah ia bersikap sebagai seorang yang cenderung kepada perbuatan-perbuatan yang bagus, dan merasa nikmat bila melakukannya, membenci perbuatan-perbuatan yang jahat serta merasa kesal bila membuatnya.

Nabi s.a.w. telah bersabda:

Telah dijadikan bagiku cenderamata di dalam sembahyang.”

Pendek kata selagi menyempurnakan ibadat-ibadat dan meninggalkan larangan-larangan itu dilakukan dengan perasaan benci dan rasa berat diri, maka hal itu adalah suatu kekurangan dan dengan cara ini tiada boleh tercapai kebahagiaan yang sempurna.

Allah berfirman:

“Dan sesungguhnya ia (sembahyang itu) adalah sangat besar (berat), melainkan atas orang-orang yang kusyu.” (al-Baqarah: 45)

Kemudian dalam berusaha untuk mencapai kebahagiaan yang dijanjikan atas dasar budi pekerti baik itu tidak cukup dengan merasakan kelazatan taat dan merasa benci membuat dosa hanya dalam suatu masa saja, sedangkan pada masa yang lain tidak. Tetapi seharusnya hal itu berlaku terus-menerus di sepanjang hayat.

Advertisements